Saat ini di Bengkulu Selatan minimal terjadi dua krisis. Krisis BBM dan Krisis Listrik. Hal ini sudah dialami kota ini sejak saya kecil, jadi sudah 30 tahun lebih. Semakin lama krisis ini semakin parah.
Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang telah diperbuat oleh pemimpin daerah ini? UntukĀ BBM, kebutuhan di kabupaten dapat terpenuhi dengan baik, kenapa daerah ini tidak? jika alasannya kuota BBM memang terbatas, mengapa tidak diajukan penambahan kuota atau pembangunan spbu baru ?
Krisis Listrik akan berdampak besar bagi pembangunan. Pembangunan akan terhambat dan itu akan berdampak pada ekonomi masyarakat. Berapa kerugian yang ditanggung masyarakat bila alat elektroniknya rusak akibat seringnya lampu hidup mati. Ini akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
Mengapa saya katakan gampangnya menjadi pemimpin di Bengkulu Selatan?. Hal ini saya katakan karena belum adanya kemajuan signifikan yang dilakukan oleh pemimpin di daerah ini untuk mengatasi krisis listrik dan BBM. Ini ditambah dengan budaya masyarakat yang masih terlalu memegang prinsip “madak pulau (tenggang rasa/ tepo seliro)”. Masyarakat hanya pasrah tapi tak rela menerima kondisi yang ada. Jadi jarang terjadi demo terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat. Kalau seperti ini siapapun bisa menjadi pemimpin, tidak diperlukan orang yang cakap dan pintar.
Kapan rakyat akan turun menggugat kenerja pemerintah ?